Jumat, 29 Mei 2015

Contoh Skripsi Ushuluddin 2

Contoh Skripsi Ushuluddin | Al-Qur’an menunjukkan bahwa manusia dibebani tugas untuk memakmurkan bumi, Tugas yang disandangnya ini menempatkan setiap manusia sebagai pemimpin (khalifah). Setiap orang harus memimpin –dimulai dari- dirinya sendiri, dengan berbuat amal kebajikan bagi dirinya sendiri, orang lain (masyarakat dan lingkungan sekitarnya, baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa) agar mencapai tujuan hidupnya berupa keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat kelak. Setiap manusia harus mengendalikan dirinya baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun sebagai makhluk Allah yang memikul kewajiban menyampaikan pertanggungjawaban atas segala tingkah laku dan perbuatannya selama hidup di muka bumi.

Dalam masalah kepemimpinan, Nabi Muhammad SAW. menyatakan :

Ketahuilah, bahwa kamu sekalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap pimpinannya itu. Maka imam adalah seorang pemimpin yang bertanggung jawab terhadap pimpinannya (rakyatnya). Seorang lelaki (suami) adalah pemimpin bagi keluarganya dan bertanggung jawab terhadap mereka. Seorang istri (wanita) adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab terhadapnya. sedangkan seorang hamba (budak) adalah pemimpin dalam menjaga harta tuannya dan bertanggung jawab terhadapnya. Ketahuilah, kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian bertanggung jawab terhadap pimpinannya.

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa dalam posisi dan status apapun juga, manusia sebagai pribadi maupun sebagai umat, tanggung jawab sebagai pemimpin tidak dapat dielakkan. Apabila tanggung jawab ini ditunaikan, maka akan menjadikannya sebagai orang-orang yang beruntung. Namun sebaliknya, apabila diabaikan, maka ia termasuk orang-orang yang merugi.

Tanggung jawab ini akan semakin berat, apabila seseorang menjadi pemimpin dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tanggung jawab ini menjadi berat, karena hakikat kepemimpinannya memiliki dua dimensi. Pertama adalah pertanggungjawaban yang harus disampaikan pada orang-orang yang dipimpinnya. Kedua adalah pertanggungjawabannya kepada Allah tentang kesungguhan dan kemampuannya dalam mengikuti serta menjalankan petunjuk Allah dan keteladanan Nabi Muhammad dalam memimpin. Dua dimensi ini akan berpadu menjadi satu kesatuan, apabila tanggung jawab yang kedua tersebut telah ditunaikan secara baik semata-mata karena Allah SWT., maka secara pasti dimensi pertama juga terpenuhi. Dengan demikian, jelas bahwa kepemimpinan berkenaan dengan hubungan vertikal dengan Tuhan (h}abl min Alla>h) dan hubungan secara horizontal dengan sesamanya (h}abl min al-na>s).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar